• Buku Anyar Medal

  • ROHANGAN

  • SERING DIAOS

    • None
  • ARSIP SERATAN

  • Pangjajap Edisi Desember

      URANG tetep syukur ka Allóh, réhna urang bisa kénéh tepung deui jeung taun anyar Islam, 1433 Hijriyah. Kana taun Islam ieu, urang salaku umat Islam boga kapentingan anu pohara gedéna pikeun nyosialisasikeun atawa ngamasarakatkeun pananggalan Islam, sabab éta téh ngarupakeun asét urang salaku umat Islam. Salian ti éta ibadah-ibadah urang, saperti shaum, boh anu sunatna atawa anu wajibna tug nepi ka shaum haram, zakat, haji, kabéhanna diatur ku pananggalan taun Hijriyah.

      Kalintang pentingna urang nyaho tur apal kana pananggalan hijriyah ieu, sangkan urang boga sumanget hijrah. Naon pangna para sahabat, milih ‘moméntum’ hijrah ieu salaku titik panginditan taun anyar Islam? Demi dina peristiwa hijrah téh euyeub ku katuladanan, kapahlawanan, pangorbanan, kacerdasan, karancagéan, sanasib sapihanéan jeung réa-réa deui ajén-ajén anu kudu jadi karakter urang kiwari. Hijrahna Kangjeng Rosul sareng para shahabat, ti Kota Makkah ka Madinah, ku kholifah Umar bin Khoththob RA ditetepkeun salaku titik panginditan taun anyar Islam, anu loma disebut taun hijriyah, anu dikawitan ti sasih Muharram. Hijrah téh dijadikeun moméntum pikeun ngagedurkeun sumanget anyar umat Islam. Sacara pisik, hijrah ti Makkah ka Madinah téh parantos teu aya. Tapi sacara spiritual mah sumanget hijrah téh nepi ka kiwari ogé tetep lumaku sarta hirup. Tilu alinéa nembé téh nyaéta cutatan tina Ambara-1 sareng Ambara-4 pidangan BD sasih ieu. Jejer sareng Laporan Utama BD sasih ieu nyaéta perkara hijrah. Salian ti medar perkara hijrah, BD sasih ieu medar perkara koruptor. Naha payus koruptor dihukum pati, saperti anu diperedih ku salah sawios inohong Islam. Waleranna aya dina Ambara-3. Bina Da’wah, kanggo jaga teu hilap ayeuna. Cag!

PROFIL DEWAN DA’WAH

ddiiSEJARAH DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA (DEWAN DA’WAH).

Masa Orde Lama (1959-1965) tercatat sebagai masa paling gelap dalam sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia. Persiden Sukarno mencanangkan Konsepsi Presiden yang secara operarional terwujud dalam bentuk Demokrasi Terpimpin. Demokrasi terpimpin memusatkan seluruh kekuasaan ditangan Presiden. Para pemimpin nasional Mochtar Lubus, K.H. Isa Anshari, Mr. Assaat, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, S.H., M. Yunan nasution, Buya Hamka, Mr, Kasman Singodimedjo dan K.H E.Z. Muttaqin yang bersikap kritis terhadap politik Demokrasi terpimpin, ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Puncak dari masa penuh kegelapan itu ialah pecahnya peberontakan berdarah G.30.S/PKI.

Sudah seluruh kekuatan bangsa yang antikomunis bangkit menghancurkan pemberontakan tersebut, datanglah zaman baru yang membawa banyak harapan. Yaitu era orde baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pada masa inilah, para pemimpin bangsa yang di penjarakan oleh rezim Orde Lama, dibebaskan.

Para pemimpin nasionali islami yang pada dasarnya tidak dapat duduk berpangku tangan, seperti Mohammad Natsir dan Prawoto Mangkusasmito mulai merancang gagasan untuk berpartisipasi penuh mendukung pemerintahan Orde Bari. Pada mulanya mereka mengharapkan pemerintah bersedia merehabilitasi Partai Politik Masyumi yang dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Sukarno. Musyawarah Nasional III Persatuan Sarjana Hukum Indonesia (Persahi) menyatakan:

Bahwa pembubaran Masyumi, partai Sosialis Indonesia (PSI) DAN Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Yuridis formal tidak syah, dan yuridis material tidak beralasan”. Namun, pembubaran Masyumi, ternyata bukanlah masalah hukum semata-mata. Pembubaran tersebut adalah masalah politik. Oleh karena itu ketika permintaan tersebut. Oleh berbagai pertimbangan tidak dapat dipenuhi pemerintah, tokoh-tokoh nasionalis Islami itu tidak ngotot, juga tidak berputus harapan.

Bagi mereka, aktivitas hidup ini semata-mata dalam rangka beribadah dan berdakwah untuk meraih keridhaan ilahi, kerceimpung di lapangna politik,bagi mereka merupakan bagian dari ibadah dan dakwah. Maka ketika meria tidak lagi mendapat kesempatan untuk berkiprah di lapangan politik, jalan ibadah dan dakwah dalam bentuk lain masih terbuak sangat lebar. Dalam kata-kata Pak Natsir, dulu berdakwah lewat jalur politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah.

Demikianlah maka pada 26 Februari 1967, atas undangan pengurus Masjid Al-Munawarah,Kapung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, para alim ulama dan zu’ama berkumpul untuk bermusyawarah, membahasa, meneliti, dan menilai beberapa masalah, terutama yang rapat hubungannya dengan usaha pembangunan umat, juga tentang usaha mempertahankan aqidah didalam kesimpangsiuran kekuatan-keuatan yang ada dalam masyarakat.

Musyawarah menyimpulkan dua hal sebagai berikut:

  1. Menyatakan rasa syukur atas hasil dan kemajuan yang telah dicapai hingga kini dalam usaha-usaha dakwah yang secara terus menerus dilakukan oleh beerbagai kalangan umat, yakni para alim ulama dan para muballiqh secara pribadi, serta atas usaha-usaha yang telah dicapai dalam rangka organisasi dakwah.

  2. Memandang perlu (urgent) lebih ditingkatkan hasil dakwah hingga taraf yang lebih tinggi sehingga tercipta suatu keselarasan antara banyaknya tenaga lahir yang dikerahkan dan banyak tenaga batin yang ddicurahkan dalam rangka dakwah tersebut.

Untuk menindaklanjuti kesimplan pada butir kedua diatas, musyawarah para ulama dan zu’ama mengkonstatir terdapatnya berbagai persoalan, antara lain:

  1. Mutu dakwah yang didalamnya tercakup persoalan penyempurnaan sistem perlengkapan peralatan, peningkatan teknik komunikasi, lebih – lebih lagi sangat dirasakan perlunya dalam usaha menghadapi tantangan (konfrontasi) dari bermacam-macam usaha yang sekarang giat dilancarkan oleh penganut agama-agama lain dan kepercayaan-kepercayaan (antara lain faham anti Tuhan yang masih merayap di bawah tanah), Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan sebagainya terhadap masyarakat Islam

  2. Planning dan integritasi yang didalamnya tercakup persoalan-persoalan yang diawali oleh peneliti (research) dan disusul oleh pengitegrasian segala unsur dan badan-badan dakwah yang telah ada dalam masyarakat ke dalam suatu kerja sama yang baik dan berencana.

Dalam menampung masalah-masalah tersebut, yang mengandung cakupan yang cukup luas dan sifat yang cukup kompleks, maka musyawarah alim ulama itu memandang perlu membentuk suatu wadah yang kemudian dijelmakan dalam sebuah Yayasan yang diberi nama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia disingkat Dewan Dakwah. Pengurus pusat yayasan ini berkedudukan di ibu kota negara, dan dimungkinkan memiliki Perwakilan di tiap-tiap ibu kota Daerah Tingkat I serta Pembantu Perwakilan di Tiap-tiap Daerah Tingkat II seluruh Indonesia.

Dewan Dakwah yang dikukuhkan keberadaanya melalui Akte Notaris Syahrim Abdul Manan No. 4, Tertanggal 9 Mei 1967, melandaskan kebijaksanaannya kepada empat hal:

  1. Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berdasarkan taqwa dan keridhaan Allah.

  2. Dalam mencapai maksud dan tujuannya, Dewan Dakwah mengadakan kerja sama yang erat dengan badan-badan dakwah yang telah ada di seluruh Indonesia.

  3. Dalam hal yang bersifat kontroversial (saling bertentangan) dan dalam usaha melicinkan jalan dakwah, dewan dakwah bersikap menghindari dan atau mengurangi pertikaian faham antara pendukung dakwah, istimewa dalam melaksanakan tugas dakwah.

  4. Dimana perlu dan dalam keadaan mengizinkan, dewan dakwah dapat tampil mengisi kekosongan, antara lain menciptakan suatu usaha berbentuk atau bersifat dakwah, usaha mana sebelumnya belum pernah diadakan, seperti emngadakan pilot projek dalam bidang dakwah.

Musyawarah alim ulama juga merumuskan program kerja sebagai penjabaran dari landasan kebijaksanaan diatas. Program kerja tiga pasa itu adalah sebagai berikut:

  1. Mengadakan pelatihan-pelatihan atau membantu mengadakan pelatihan bagi muballighin dan calon-calon muballghin

  2. Mengadakan research (penelitian) dan membantu mengadakan penelitian, yang hasilnya dapat segera dimanfaatkan bagi perlengkapan usaha para muballighin pada umumnya.

  3. Menyebarkan aneka macam penerbitan, antara lain buku-buku, brosur, dan atau siaran lain yang terutama ditunjukan untuk memperlengkapi para muballighin dengan ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum lainnya, guna meningkatkan mutu dan hasil dakwah. Usaha ini diharapkan dapat mengisi kekosongan-kekosongan di bidang lektur, yang khusus diperlukan dalam masyarakat.

Musyawarah juga menyetujui kepengurusan Dewan Dakwah yang untuk pertama kalinya terdiri dari:

Ketua              : Mohammad Natsir

Wakil Ketua    : Dr. H.M Rasjidi

Sekretaris         : H. Buchari Tamam

Sekretaris II     : H. Nawawi Duski

Bendahara        : H. Hasan Basri

Anggota             : K.H. Taufiqurrahman

Anggota             : Mochtar Lintang

Anggota             : H. Zainal Abidin Ahmad

Anggota             : Prawoto Mangkusasmito

Anggota             : H. Mansur Daud Datuk Palimo Kajo

Anggota             : Prof. Osman Raliby

Anggota            : Abdul Hamid

PENGURUS PUSAT 2005-2010

Ketua Umum : Syuhada Bahri

Ketua : A. Cholil Ridwan

Ketua : Daud Rasyid

Ketua : Asma Faridah Natsir

Ketua : Adian Husaini

Ketua : Ramlan Mardjoned

Ketua : Mohammad Noer

Ketua : Mas’adi Sulthani

Ketua : Syariful Alamsyah

Sek. Umum : Abdul Wahid Alwi

Sekretaris : Muzayyin M. Thoyib Abdul Wahab

Sekretaris : Hardi M. Arifin

Sekretaris : Misbach Malim

Sekretaris : Amlir Syaifa Yasin

Sekretaris : Suwito Suprayogi

Sekretaris : Zahir Khan

Sekretaris : Avid Sholihin

Sekretaris : Andi Nurul Djanah

Bendaraha Umum : Edy Setiawan

Bendahara : Ma’mun Daud

Bendahara : Irmawan Djauharie.*

(Sumber: http://www.dewandakwah.org)


One Response

  1. Wilujeng Kenal, mudah2an terang ningkat boh isi jeung layanana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: